Eka Surya Online

BELAJAR KIMIA DENGAN TRADISI LOKAL Pengembangan Pembelajaran Asli (Indigeneus Pedagogy) untuk Ilmu Nonpribumi

Posted on: 23 April 2010

Oleh: I Wayan Suja, staf dosen Jurusan Pendidikan Kimia, Undiksha

Abstrak

Depdiknas memiliki mimpi besar untuk menciptakan “Insan Indonesia Cerdas dan Kompetitif” pada tahun 2025.  Mungkinkan kita mampu berkompetisi secara global jika kita hanya berperan sebagai konsumen ilmu dan teknologi Barat?  Tidak hanya content, konteks pedagogi sains yang diterapkan di lembaga-lembaga pendidikan juga diadopsi dari Barat.  Keadaan ini menyebabkan pembelajaran sains di sekolah sangat mungkin berpotensi menimbulkan ketidakcocokan (clash) dan konflik internal pada diri siswa (Subagia, 1999; Jegede, 1995; Suja, 2008 dan 2009).

Untuk mengantisipasi hal itu, perlu dilakukan penggalian dan rekonstruksi model-model pembelajaran asli (indigeneus pedagogy) berbasis budaya lokal.  Dengan demikian, siswa akan dapat mempelajari ilmu-ilmu asing dengan tata cara tradisinya sendiri.  Hal ini sejalan dengan pemikiran, bahwa tidak ada suatu cara baru yang diimpor dari luar mampu memecahkan masalah secara tuntas.  Untuk itu, dalam tulisan berikut akan dipaparkan model pembelajaran sains, khususnya kimia, yang telah dikembangkan oleh penulis dari hasil penggalian terhadap cara belajar sains masyarakat Bali.  Masyarakat Bali memiliki kearifan lokal (local wisdom) untuk mengenal lingkungan alamiahnya melalui empat cara, sehingga disebut Catur Pramana, yakni pengamatan langsung (pratyaksa pramana), penalaran (anumana pramana), pemodelan dan analogi (upamana pramana), dan penerimaan informasi dari orang lain (sabda pramana).

Setelah mempertimbangkan karakteristik ilmu kimia, yang selalu melibatkan aspek makroskopis, mikroskopis, dan simbol, penulis telah mengembangkan model pembelajaran yang yang berbasis Siklus Belajar Catur Pramana.  Aspek kimia yang bersifat makroskopis (kasat mata) mudah diajarkan dengan cara pratyaksa pramana.  Aspek mikroskopis diajarkan dengan anumana pramana.  Aspek simbolik partikel materi, yang sangat diperlukan untuk menjelaskan sifat materi, dapat dijelaskan dengan bantuan model atau analogi, yang secara umum disebut upamana pramana.  Selanjutnya, fenomena makroskopis atau yang sudah ada di buku dan akrab dengan siswa karena ada di lingkungannya dapat dijelaskan dengan sabda pramana.

Model pembelajaran memiliki lima unsur, yaitu sintaks, sistem sosial, prinsip kegiatan, sistem pendukung, serta dampak pembelajaran dan dampak pengiring (Joyce & Weil, 1996).  Sintaks Model Siklus Belajar Catur Pramana terdiri dari empat langkah, dengan urutan tergantung pada model siklus belajar yang dipilih.  Pemilihan siklus belajar mempertimbangkan karakteristik materi ajar. Sebagai contoh, konsep-konsep kimia yang bersifat prosedural eksperimentatif dan kasat mata potensial dijelaskan dengan siklus belajar PAUS (pratyaksaà anumana à upamana à sabda), menggunakan metode induktif; sebaliknya konsep-konsep deklaratif yang didukung oleh fenomena makroskopis disarankan untuk diajarkan dengan siklus belajar SAUP (sabdaà anumana à upamana à pratyaksa), mengikuti metode deduktif.  Sistem sosial yang berlaku dalam pembelajaran berbasis Catur Pramana adalah sistem sosial yang berlandaskan nilai-nilai budaya Bali, seperti kerja sama, peran aktif siswa, kesetiaan kepada guru, ketekunan, keharmonisan, dan kepedulian terhadap lingkungan. Selama proses pembelajaran berlangsung guru harus berperan sebagai fasilitator, mediator, dan pembimbing agar siswa dapat mengkonstruksi pengetahuannya sendiri dalam kondisi yang kondusif. Dengan demikian, guru akan menganut prinsip tut wuri handayani, sedangkan siswa yang aktif belajar dan bekerja (student centered).  Pembelajaran yang dilaksanakan harus didukung dengan ketersediaan peralatan dan bahan-bahan kimia, fasilitas laboratorium, media pembelajaran (seperti molymood), RPP, LKS, dan perangkat asesmen secara memadai. Dampak instruksional yang disasar berupa pencapaian kompetensi-kompetensi tertentu, seperti: melakukan pengamatan, merumuskan hipotesis berdasarkan hasil penyelidikan, memahami hubungan struktur mikroskopis dengan sifat materi, membuat model mikroskopis partikel materi, dan meningkatkan hasil belajar siswa.  Selain dampak langsung, implementasi model siklus belajar Catur Pramana diharapkan memiliki dampak iringan berupa sikap ilmiah siswa, atmosfer akademik yang semakin kondusif, kecintaan terhadap nilai-nilai luhur budaya asli, dan lain-lainnya.

2 Tanggapan to "BELAJAR KIMIA DENGAN TRADISI LOKAL Pengembangan Pembelajaran Asli (Indigeneus Pedagogy) untuk Ilmu Nonpribumi"

dimana saya dapat memperoleh makalah dari judul ini??
sbg tugas kampus mencari metode baru belajar kimia

bisa menghubungi Bapak I Wayan Suja, M.Si di Universitas Pendidikan Ganesha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: