Eka Surya Online

Revitalisasi Taksu Lingkungan Berwawasan Kearifan Lokal Melalui Pembelajaran Taksonomi Tumbuhan Usada dan Upakara (Pendekatan Etnotaksonomi dalam Pendidikan Berwawasan Lingkungan)

Posted on: 23 April 2010

I Dewa Putu Subamia

Program Studi Pendas Konsentrasi IPA (staf laboran Jurusan Pendidikan Kimia)

Program Pascasarjana Undiksha

ABSTRAK

Penulisan artikel ini bertujuan untuk memberi wawasan mengenai pentingnya pembelajaran taksonomi “taru usada” dan “upakara” dalam melestarikan taksu lingkungan berwawasan kearifan lokal. Selanjutnya, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran (awarenes) masyarakat agar senantiasa menjaga kelestarian lingkungan Bali yang berwawasan agama dan budaya. Wawasan agama dan budaya (Hindu) merupakan spirit yang menjadi “taksu” bagi lingkungan (Jagat Bali). Pembelajaran yang dimaksud adalah melalui pengintegrasian etnotaksonomi tumbuhan usada dan upakara dalam pendidikan berwawasan lingkungan. Pendidikan berwawasan lingkungan diharapkan mampu menghasilkan masyarakat yang cerdas lingkungan yang memiliki kompetensi tanggap (responsive) dan peduli (aware) terhadap lingkungan serta perubahan-perubahan lingkungan yang terjadi. Pendidikan ini dapat dijadikan sebagai salah satu upaya alternatif dalam menjaga kelestarian lingkungan berwawasan kearifan lokal. Selanjutnya, diharapkan dapat bermanfaat sebagai penyulut dan pendorong suatu tindakan pembudidayaan tanaman secara serius. Dari segi praktis tulisan ini diharapkan dapat memberikan sumbangan yang bermanfaat bagi pengambilan kebijakan dalam pengelolaan lingkungan secara keseluruhan.

Kata-kata kunci: taksu lingkungan, usada dan upakara, etnotaksonomi, kelestarian lingkungan, pendidikan berwawasan lingkungan.

ABSTRACT

The article aimed to give knowledge about the importance of taxonomy learning of  “taru usada” and “taru upakara” to remain spirit of environmental that based on local wisdom oriented. Also, expected to improvement a society awareness to keep the continuous of Balinese environment based on religion and culture. The religion and culture were spirit that became a power “taksu” of Balinese environment. These lessons mean was integrating of etnotaxonomy “tumbuhan usada” and “upakara” in school curriculum. Environmental education expected to make the society became literate on their environment that had responsive competence and aware of their environment and also environment changed that were happened. This education could be used as an alternative effort in continuous of environmental. Leader, that was expected to be able to motivate and support an action of a serious plantation. In the practiced, this article was expected to decision making on management of environment in whole.

Key words: taksu of enveronmet, usada and upakara, etnotaxsonomy, to remain of environmental, education based on enveronmental.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: